Pajak Reklame Dibayar di Muka Rp1,5 Miliar Diduga Tak Masuk Arus Kas Daerah

749
 

Kendari, Inilahsultra.com – Dugaan korupsi pajak reklame di Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Kendari tengah diusut oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendari.

Kepala Seksi (Kasi) Intelejen Kejari Kendari, Ari Siregar mengatakan, pihaknya melakukan penyelidikan dan pengumpulan alat bukti dugaan korupsi pajak reklame yang didasari atas laporan masyarakat.

- Advertisement -

Laporan itu terkait dugaan pajak reklame tidak masuk ke kas negara, namun justru masuk ke kantong pribadi pejabat sejak 2018 hingga 2019. Namun, jaksa belum bisa mentaksir berapa kerugian negara.

Sejauh ini penyidik telah memeriksa sebanyak 10 saksi. Hanya saja, jaksa belum bisa mengarah kepada siapa yang diduga terlibat

“Dengan diamankan sejumlah dokumen, Kejaksaan akan menelusuri ke mana aliran dana dan pertanggunggjawaban anggaran tersebut,” kata Ari Siregar belum lama ini.

Berdasarkan penusuran Inilahsultra.com, dalam Rancangan Peraturan Daerah Kota Kendari Tahun 2020 tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Kendari Tahun Anggaran 2019.

Pajak reklame terhitung dalam pendapatan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Rp2.761.396.475,00 atau Rp2,7 miliar. Sementata piutang tahun 2019 sebesar Rp 212.250.000,00 atau Rp212 juta. Piutang yang terealisasi di tahun 2019 Rp71.117.100.00 atau Rp71 juta. Sementara pendapatan yang diterima di muka 2019 pajak reklame sebesar Rp1.596.284.438,15 atau Rp1,5 miliar.

Namun, dalam daftar arus kas masuk daerah, pendapatan diterima di muka tidak tercatat nominal uangnya hanya ditandai dengan tanda kurang.

Saat dikonfirmasi kepada Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Kendari, Sri Yustin menjelaskan, yang tercantum dalam laporan pertanggungjawaban sudah masuk di dalam kas daerah.

“Saya yakin 100 persen apa yang ada dalam laporan pertanggungjawaban itu yang ada di kas daerah, karena sudah dibedah oleh BPK. Yang lebih jelasnya ke kejaksaan bukan kewenangan kami,” kata Sri Yustin saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis 6 Agustus 2020.

Lanjut dia, jika tidak masuk kas daerah dan laporan pertanggungjawaban ini pasti ada koreksi dari BPK.

“Tapi ini tidak ada koreksi. Berarti LPJ itu nda ada masalah. Kalau mau cari isu masalahmu kopergimi di kejaksaan dia yang akan menjawab dengan klir, apa sebenarnya yang terjadi,” jelasnya.

Saat ditanya dalam laporan pertanggungjawaban pendapatan diterima di muka kurang lebih Rp 1,5 miliar tidak tercatat dalam arus kas daerah, mantan Kepala Dinas PTSP Kota Kendari ini tidak mengetahui pasti persoalan tersebut.

“Jangan kotanya saya, karena saya bukan ahli akuntansi. Harus orang akuntansi yang jawab karena itu buku,” kata Sri Yustin langsung melemparkan pertanyaan kepada anggotannya Samuddi.

Samuddi menjelaskan, pendapatan diterima di muka itu ada semacam kontrak perjanjian misalnya satu tahun. Sebelum melaksanakan aktivitasnya sudah membayar terlebih dahulu dan kalau dalam kontrak itu Rp100 juta harus dilunasi, tapi aktivitasnya tidak dilakukan dan sudah dibayar duluan.

“Ituah yang masuk dalam arus kas uang namanya pendapatan di muka. Jadi yang berutang itu di sini adalah pemda karena sudah dibayar di muka,” jelasnya.

Saat ditanya kalau memang masuk dalam arus kas daerah, tapi kenapa dalam laporan pertanggungjawaban tidak terncantum nominalnya, ia menjawab, pendapatan di muka tetap tercantum.

Tapi saat diperlihatkan dokumen pertanggungjawaban yang didapat Inilahsultra.com, Samuddi mengatakan, tidak tercantumnya nominal pendapatan di muka itu hanya cara penulisan hanya bagian akuntansi yang menjelaskan di BKAD.

“Kalian tidak bisa bedah itu, yang bisa hanya bagian akuntansi, kalau kalian mau saya antar sama yang buat bagian keuangan. Tapi kalau mau lebih jelas ke BKAD karena laporan mereka yang buat,” tutupnya.

Penulis : Haerun

Koreksi judul : Sebelumnya, ditulis judul Pajak Reklame Dibayar di Muka Rp1,5 Miliar Lebih Diduga Tak Masuk Kas Daerah diganti menjadi Pajak Reklame Dibayar di Muka Rp1,5 Miliar Diduga Tak Masuk Arus Kas Daerah. (redaksi)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...