
Labungkari, Inilahsultra.com – Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang kini bernama Program Indonesia Pintar (PIP) pada SMPN 5 Lakudo Kabupaten Buton Tengah (Buteng) diduga kuat telah disunat pihak sekolah.
Pemotongan tersebut dilakukan secara sepihak tanpa ada rapat dan pemberitahuan kepada para orang tua (Ortu) murid. Bantuan yang seharusnya diterima sebanyak Rp 750 ribu di potong hingga Rp 350 ribu.
Orang tua siswa, HR (Inisial) membenarkan pemotongan tersebut dilakukan pihak sekolah.
“Betul adanya pemotongan yang dilakukan pihak sekolah, seharusnya diterima Rp 750.000 pas diterima tinggal Rp 350.000 tidak ada, kita sempat bingung soalnya tidak ada pemberitahuan awal terkait pemotongan tersebut,” ungkapnya, Senin, 13 November 2017.
Kata dia, pemeotongan tersebut dilakukan pihak sekolah dengan alasan dibagi kepada siswa-siswa yang tidak mendapatkan bantuan PIP. Selain itu juga digunakan untuk membayar pembelian baju seragam olahraga kepada siswa-siwa kelas VII SMPN 5 Lakudo yang baru masuk.
“Saat pembagian itu sempat kami mengadakan protes terhadap pemotongan dana tersebut namun melihat dengan alasan yang dikatakan kepala sekolah, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga kita ikuti saja apa yang dibilang kepala sekolah. Kita mau apa mereka juga yang urus dana PIP ini,” kesalnya.
Hal senada diungkap orang tua siswa, IR (Inisial). Menurut dia, pemotongan itu digunakan untuk pembelian pakaian olahraga karena dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak bisa lagi digunakan untuk membeli pakaian seragam.
“Sempat banyak yang keberatan mempertanyakan kenapa ada potongan. Baru anehnya kenapa dananya sudah keluar baru dirapatkan, kenapa tidak jauh-jauh hari sebelumnya sebelum dana tersebut keluar, kita sangat keberatan tapi masyarakat disini takut ungkapkan itu jangan sampai imbasnya kena keanak-anak kami,” jelasnya.
Sementara, Kepala SMAN 5 Lakudo Amrin SPd membenarkan adanya potongan tersebut. Menurut dia pemotongan tersebut merupakan sumbangan dari orang tua siswa.
Amrin menjelaskan, dana PIP hanya diberikan kepada pelajar yang memiliki nomor rekening dari pemerintah pusat. Sedangkan dari beberapa siswa yang ada, masih banyak siswa miskin namun tidak menerima bantuan itu. Makanya, dana yang disumbangkan akan dibagikan kepada beberapa siswa miskin tersebut.
“Sumbangan itu sudah melalui rapat bersama seluruh orang tua penerima bantuan dan ketua komite sekolah, H Samsul. Dalam hasil rapat itu, seluruhnya bersedia dan tidak satupun mengajukan keberatan,” kilahnya.
Kata dia, masih ada 10 orang siswa lain dari daftar penerima PIP yang layak menerima bantuan namun tidak terdaftar.
“Makanya dari hasil sumbangan itu masing-masing dari mereka kita berikan Rp 200 ribu. Sisanya, dana sumbangan itu kita langsung belikan pakaian olahraga buat anak kelas VII serta sisanya itu untuk biaya administrasi dan transportasi waktu mengurus pencairan. Soalnya untuk pakaian sekolah tadi itu, tidak bisa lagi pakai dana BOS. Kalaupun mau pakai dana BOS berarti itu bukan hak milik, tapi milik sekolah,” paparnya.
Amrin mengakui, pemotongan dana untuk sumbangan itu hanya diketahui oleh pihak penerima dan komite sekolah, sedangkan instansi terkait dalam hal ini Dinas Pendidikan Buteng tidak disampaikan. Padahal, beberapa bulan yang lalu, Wakil Bupati Buteng La Ntau dengan tegas mengungkapkan dana PIP itu wajib diserahkan sepenuhnya ke penerima bantuan serta tidak boleh satu persenpun dana tersebut dipotong.
“Kalau itu saya belum sampaikan ke Dinas Pendidikan, saya juga belum sampaikan juga ke Pak Bupati atau Pak Wakil. Intinya, ini hasil kesepakatan bersama, dan bukan potongan tapi itu sumbangan,” tegasnya.
Untuk diketahui, jumlah penerima dana PIP SMPN 5 Lakudo berjumlah 35 orang. Dari jumlah itu, 14 orang menerima bantuan hanya RP 300 ribu dan 21 orang lainnya hanya menerima bantuan dana PIP Rp 400 ribu. Setelah dijumlahkan dengan 10 penerima tambahan, jumlah keseluruhan penerima bantuan sebanyak 45 orang.
Reporter: Anto
Editor: Din




