Cerita Pemuda Sultra yang Beruntung Dapat Beasiswa ke Luar Negeri

Yudhi Dwi Hartono penerima beasiswa LPDP di Swedia

Kendari, Inilahsultra.com – Beasiswa sekolah ke luar negeri menjadi dambaan setiap generasi muda, tidak terkecuali pemuda di Sulawesi Tenggara.

Dewasa ini, banyak sumber beasiswa yang disiapkan bagi siapa yang hendak lanjut studi di strata dua (S2) maupun S3.

Ada yang disiapkan langsung oleh pemerintah melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dikelola oleh Kementerian Keuangan RI. Serta ada beasiswa yang disiapkan beberapa negara melalui kerjasama dengan Pemerintah Indonesia.

-Advertisement-

Khusus LPDP, kuotanya tidak terbatas. Kebanyakan, diprioritaskan kepada pemuda yang berasal dari daerah Timur Indonesia, termasuk Sultra.

Namun, kuota yang tidak terbatas itu, bukan berarti otomatis usai mendaftar langsung lulus. Untuk bisa terkafer harus memenuhi syarat yang ketat.

Pastinya, setiap calon peraih beasiswa harus mampu berbahasa Inggris dengan nilai toefl 550 dan khusus dalam negeri minimal 400. Syarat ini kemudian menjadi batu sandungan kebanyakan para calon pelamar beasiswa, terkhusus di daerah tertinggal.

Di Sultra sendiri, berdasarkan catatan International Scholarship Alumni (INSAN) Sulawesi Tenggara, sudah sekitar 200-an alumni luar negeri yang ada di Sultra. Dengan jumlah itu, boleh dibilang kualitas sumber daya manusia (SDM) Sulawesi Tenggara tak bisa dianggap remeh.

Inilahsultra.com berkesempatan mendengarkan langsung cerita para penerima beasiswa luar negeri yang punya prestasi.

Yudhi Dwi Hartono
Pemuda 28 tahun ini belum lama menyelesaikan studi S2 di Jurusan Design and Construction Project Management di Chalmers University of Technology, Swedia.

Sebagai pemuda desa, di Kecamatan Amonggedo, Kabupaten Konawe, ia tidak membayangkan bisa kuliah di luar negeri. Namun demikian, hal yang mengejutkan dalam hidupnya itu telah dilaluinya.

Sejak terdaftar sebagai penerima beasiswa LPDP 2015 lalu, ia sukses menyelesaikan studi dalam dua tahun di kampus ternama di Negara beribukota Stockholm itu.

Baginya, mendapatkan beasiswa ini melalui perjuangan panjang penuh tantangan. Usai mendapat gelar S1 di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo Kendari pada 2015 lalu, ia mendapat kabar LPDP membuka beasiswa bagi pemuda berprestasi untuk melanjutkan studi magister ke luar negeri.

Selain menyiapkan kemampuan toefl, ia juga harus siap melalui seleksi yang panjang. Mulai tes kesehatan jasmani dan rohani, tes akademik, tes wawancara, tes bebas narkoba, surat keterangan catatan kelakuan (SKCK). Bahkan harus menyertakan surat rekomendasi dari tokoh masyarakat hingga kepala daerah.

“Jadi tes masuk untuk mendapatkan beasiswa itu tidak mudah,” katanya.

Seluruh rangkaian tes itu, kata dia, dilakukan berjenjang, mulai di Kendari, Makassar hingga di mama kota, Jakarta. Setelah lulus, ia kemudian berangkat ke Swedia.

Menurutnya, mendapatkan beasiswa ke luar negeri, khususnya LPDP tergantung kualitas diri. Barang siapa yang menempa diri lebih giat, pastinya bisa sukses kemudian hari.

Ia menyebut, mendapat beasiswa melalui LPDP ini memiliki banyak manfaat. Semua kebutuhan ditanggung.

“Mulai kita berangkat, sampai di Negara tujuan dan kembali ke Indonesia semua dibiayai. SPP, tempat tinggal hingga uang makan semua ditanggung. Uang buku juga ditanggung. Kita di sana hanya belajar saja,” katanya.

Keuntungan lainnya, alumni LPDP jarang menganggur. Selain karena kemampuannya, mereka punya jejaring yang telah melahirkan lapangan pekerjaan.

Hal ini sejalan dengan semangat beasiswa LPDP yang menuntut alumninya kembali ke daerahnya membangun daerahnya berdasarkan latar belakang keilmuan masing-masing.

Yudhi sendiri, saat ini menjadi dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Kendari Jurusan Teknik Arsitek.

Nurdian Djuhasin
Guru SMK 3 Kendari Jurusan Perhotelan ini salah satu pemuda di Sultra yang menikmati beasiswa luar negeri.

Nurdian Juhasin penerima beasiswa AMINEF Amerika

Pada 2015 silam, ia mendapatkan beasiswa American-Indonesia Exchange Foundation (AMINEF) yang sumber pendanaannya dari pemerintah Amerika Serikat (AS).

Beasiswa ini, merupakan bentuk kerjasama Amerika dan Indonesia yang telah berlangsung sejak 1970-an.

Perjalanan mendapatkan beasiswa ini bukan tanpa aral. Ia harus mengalami kegagalan sebanyak dua kali. Nanti kali ketiga ia mendaftar, baru dinyatakan lulus dan kuliah di Bellingham Washington Amerika Serikat.

Menurutnya, AMINEF ini merupakan beasiswa professional development AS, khusus bagi yang sudah bekerja.

Beasiswa ini berbagai macam jenis. Misal, profesional development khusus beasiswa kerja dan beasiswa Fulbright khusus studi gelar S2 maupun S3, maupun beasiswa pertukaran pelajar antar negara, dan beasiswa mengajar.

“Saya memilih beasiswa hanya untuk peningkatan kualitas bagi pekerja,” kata alumni Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UHO 2003 ini.

Berkat beasiswa ini, perempuan berjilbab ini sempat magang di hotel ternama Amerika, JW Marriott di Washington DC.

Ia menyebut, untuk mendapatkan beasiswa ini sangat sulit. Rangkaian seleksi dilakukan hingga di negeri asal pemberi beasiswa. Sama halnya dengan cerita Yudhi di atas, syarat toefl menjadi hal yang utama. Sehingga tidak salah, alumni beasiswa ini di Indonesia bisa dihitung jari.

“Di Sultra sepertinya jarang. Saya dengan ibu Iba salah satu alumninya dari Sultra,” katanya.

Pastinya, setelah mendapatkan beasiswa ini, banyak keuntungan yang diperoleh. Seluruh biaya hidup ditanggung. Mulai makan dan tempat tinggal tidak perlu dipusingkan.

Banyak Beasiswa, Bagaimana dengan Generiasi Muda Kekinian?
Informasi beasiswa luar negeri ramai didapatkan di berbagai website. Banyaknya sumber pendanaan sekolah lebih tinggi ini, bukan berarti membuat generasi saat ini tertarik. Bisa saja sebaliknya.

Sebab, menjalani studi di luar negeri, tentu tantangannya berbeda dengan di dalam negeri. Terlebih ragam stigma dan streotipe yang harus dihadapi.

Wa Iba, merupakan salah satu penerima beasiswa AMINEF di Amerika Serikat. Baik S2 maupun S3-nya, selalu mendapatkan keuntungan dari beasiswa.

Wa Iba, pembina INSAN Sultra sekaligus alumni penerima beasiswa AMINEF di Amerika

Ia merupakan alumni Fakultas Ilmu Perikanan UHO. Lalu melanjutkan studi S2 di James Cook Universiti Australia, Jurusan Aquaculture.

Setelah menyelesaikan studi S2, ia kemudian melanjutkan S3 di Amerika Serikat di The University of Rhode Island.

Sama dengan pengalaman dan keuntungan yang diceritakan oleh dua figure di atas. Wa Iba juga punya cerita tentang pengalamannya menempuh studi di luar negeri.

Namun, kali ini, ia bercerita tentang tantangan dan hambatan adanya beasiswa ini terhadap kaum milenial dengan pelbagai persoalan di tanah air. Termasuk dinamika perguruan tinggi yang dosennya cenderung memilih studi di dalam negeri.

Pembina INSAN Sultra ini mengaku, keuntungan mendapatkan beasiswa luar negeri sangat banyak. Selain pengalaman, tentu pengetahuan jauh lebih baik dibandingkan alumni dari dalam negeri.

Sebab, iklim pendidikan di luar negeri dengan berbagai prestasinya, membuat Indonesia banyak berkiblat di sana.

“Seluruh alumni luar negeri ini sumber dayanya tidak perlu diragukan. Mereka melewati pengalaman yang banyak di luar negeri,” katanya.

Namun demikian, tantangan saat ini adalah minat generasi yang terus menurun dari tahun ke tahun. Padahal, pemerintah telah membuka ruang selebar-lebarnya agar generasi bisa menimba ilmu di luar negeri.

Salah satu contoh menurunnya minat generasi muda dan dosen di Sultra adalah jumlah penerima beasiswa yang semakin sedikit.

“Kita bisa lihat berapa dosen kita yang bisa bahasa Inggris. Kebanyakan banyak yang memilih studi di dalam negeri karena berbagai tantangan itu,” jelasnya.

Makin rendahnya minat generasi muda yang kuliah di luar negeri, menjadi cambuk INSAN untuk terus mengkampanyekan pentingnya menimbah ilmu di luar negeri.

“Tujuannya dibentuk INSAN ini untuk memberi inspirasi kepada seluruh anak muda di Sultra untuk mengikuti jejak kakak-kakaknya,” katanya.

Ia berharap, pemuda Sultra jebolan luar negeri kembali ke daerah dan kemudian membangun masyarakat lebih berkembang.

“Karena menurut saya, SDM yang bagus itu dapat berkontribusi bagi pembangunan daerah dan nasional. Kita berinisiatif untuk mengembangkan virus ini,” tuturnya.

Terhadap pengembangan SDM Indonesia, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah mengalokasikan anggaran pada 2019 untuk LPDP sebanyak Rp 55 triliun. Jumlah ini meningkat Rp 20 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain LPDP, pemerintahan Jokowi-JK juga terus menjalin kerjasama pendidikan dengan beberapa Negara dalam meningkatkan kualitas SDM generasi muda Indonesia.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments