ARF Bicara Keuntungan Daerah di Balik Menguatnya Dolar

251
Abdul Rahman Farizi
-Advertise-

Kendari, Inilahsultra.com – Menguatnya dolar Amerika terhadap mata uang Rupiah tidak hanya melulu soal kerugian bagi Indonesia.

Sebaliknya, bila pemerintah pintar mengambil keputusan, penguatan dolar ini bakal menguntungkan di daerah.

-Advertise-

Pengamat ekonomi Abdul Rahman Farizi menyebut, tekanan dolar ini tentu akan membuat Indonesia kesulitan dalam hal impor.

Namun bila bicara ekspor, maka ada keuntungan juga bagi pedagang yang berkiprah di bidang eksportir.

“Risiko krisis ini ada keuntungan juga bagi pedagang ekspor,” ungkap Abdul Rahman Farizi, Kamis 13 September 2018.

Namun demikian, peningkatan barang ekspor ini tidak lepas dari peran pemerintah daerah baik provinsi dan kabupaten atau kota.

“Kenaikan dolar ini lebih berat tekanan di Pemprov tinggal apakah pemprov mau ambil momentum ini,” katanya.

Menurut dia, sudah saatnya pemerintah daerah mendeteksi potensi eskpor. Misal, di sektor pertanian, Sultra tidak kalah banyak barang bernilai ekspor.

“Seperti cengkeh, merica dan coklat termasuk potensi kelautan kita,” bebernya.

Ia juga meminta agar Pemprov Sultra bersama daerah tetangga di Sulawesi yang tergabung dalam BKPRS agar saling koordinasi terhadap peningkatan potensi ekspor ini.

Hal ini juga turut membantu pemerintah pusat yang sementara berusaha mengendalikan dampak menguatnya dolar.

“Pemerintah pusat melakukan stabilisasi terhadap moneter. Di daerah, meningkatkan ekspor dan mendukung petani agar barang bernilai ekspor bisa terjual ke luar negeri,” bebernya.

Ia menyebut, Gubernur Sultra Ali Mazi sudah memiliki pengalaman terhadap kondisi penguatan dolar.

Pada 2003 silam, saat Ali Mazi menjabat Gubernur Sultra, kondisi ekonomi Indonesia tengah bermasalah. Kala itu, dolar menguat terhadap rupiah.

“Di Sulawesi ini ada dua gubernur baru. Sultra dan Sulsel. Mereka adalah energi baru untuk bisa mengambil peran soal ini,” katanya.

Baca Juga :  Pemadam Kebakaran, Kendala Bandara Sugimanuru Belum Beroperasi

Menyangkut keuntungan penguatan dolar terhadap rupiah, Indonesia punya sejarah pada 1998. Kala itu, rupiah menembus angka 16 ribu per dolar.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh pedagang yang bergerak di sektor ekspor. Misal, di Sulawesi Selatan, banyak warga yang kaya raya karena harga coklat, cengkeh dan hasil perkebunan lainnya naik harganya.

Komoditas ini adalah barang ekspor yang sangat dibutuhkan oleh beberapa negara di dunia.

“Sehingga, jika pemerintah daerah turut berperan, maka kondisi krisis bisa dikendalikan,” jelasnya.

Meski demikian, kondisi menguatnya dolar tidak bisa tetap dibiarkan begitu saja. Pemerintah harus mengambil langkah cepat agar krisis moneter tidak terjadi.

“Krisis ini faktor eksternal, seperti jatuhnya mata uang negara lain. Tapi jangan dianggap ini krisis hanya sementara. Karena awal pemicunya dari luar dan berdampak ke Indonesia,” pungkasnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here