Sebagian Besar Warga Menolak Penambangan Mangan di Desa Kumbewaha Buton

148
DARI KIRI- Sekdes Kumbewaha Syahril, warga Muhis Ismail, dan Kades Muharuddin.

Pasarwajo, Inilahsultra.com – Sebagian besar warga Desa Kumbewaha Kecamatan Siontapina Kabupaten Buton tidak menyetujui adanya aktifitas penambangan Mangan di wilayah tersebut. Makanya, warga meminta agar penambangan itu dihentikan.

Salah seorang warga Kumbewaha, Muhis Ismail mengatakan, akibat penambangan Mangan yang dilakukan PT Malindo Bara Murni menimbulkan keresahaan di masyarakat. Banyak tanaman masyarakat rusak atau mati akibat limbah pabrik yang mencemari lingkungan.

- Advertisement -

“Ini sangat meresahkan masyarakat. Gara-gara aktifitas perusahaan banyak dampak negatif yang dirasakan warga, seperti tanaman rusak dan mati dan membuat macet tiga sumber mata air,” kata Muhis, Kamis 14 Maret 2019.

Menurut Muhis, sekira tahun 2013 lalu ada rekomendasi dari DPRD kepada PT Malindo Bara Murni agar aktivitas penambangan dihentikan. Namun, faktanya tanpa sepengetahuan warga penambangan terus dilakukan pada tahun 2018 lalu.

“Dulu ada kesepakatan dengan Dewan agar penambangan dihentikan sampai ada izin keluar. Tapi dilakukan tidak diketahui orang banyak, jadi kalau bisa dihentikan,” pintanya.

Sekretaris Desa Kumbewaha, Syahril menilai, keberadaan perusahaan tidak memberikan manfaat bagi masyarakat. Kehadiran perusahaan justru menimbulkan kesenjangan sosial dimasyarakat.

Menurut dia, dari aspek lingkungan dalam proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) tidak pernah melibatkan masyarakat atau tokoh masyarakat.

Harusnya, lanjut Syahril, perusahaan memikirkan kondisi lingkungan. Seharusnya perusahaan tidak melakukan reklamasi dan melakukan penghijauan kembali.

Sementara pada aspek ekonomi, terangnya, tidak dirasakan masyarakat secara keseluruhan, justeru hanya dirasakan segilintir orang. Pasalnya, kehadiran perusahaan tidak bisa menyerap tenaga kerja yang banyak.

Menurut Syahril, PT Malindo Bara Murni tidak mengindahkan rekomendasi DPRD Buton sekira tahun 2013 lalu untuk tidak melakukan aktivitas penambangan.

Memang, kata dia, tahun 2014 sempat berhenti namun pada tahun 2018, perusahaan kembali melakukan penambangan.

Baca Juga :  Penari Kolosal Mulai Latihan Konfigurasi di Takawa

“Dan mereka ini main kucing-kucingan dan yang beroperasi bukan Malindo tapi ada perusahaan lain. Ibaratnya perusahaan dalam perusahaan,” bebernya.

Menanggapi hal itu Kepala Desa Kumbewa Muharuddin mengatakan, akan mendudukkan kembali persoalan itu bersama masyatakat dan pihak perusahaan. Sehingga tidak menimbulkan keresahan yang berkepanjangan.

“Saya tidak tau persis kesepakatan apa yang mungkin telah dibangun sebelumnya karena saya baru dilantik pada 23 Desember 2018 dan baru aktif pada 2 Januari 2019,” katanya.

Mengenai aktifitas penambangan diluar PT Malindo Bara Murni yaitu PT Arfah Indo Sarana (AIS) yang mengolah Mangan di desa tersebut, Muharuddin mengaku tidak tahu menahu.

Sebelumnya, lanjut Muharuddin, salah seorang dari PT AIS pernah ke kantor desa untuk membuat jalan tani. Namun, disampaikan agar bersurat secara resmi sehingga nanti pemerintah desa yang mengumpulkan masyarakat untuk membahas hal tersebut.

“Saya sampaikan dudukan dulu dengan masyarakat. Tapi apakah masyarakat sudah ketemu, saya tidak tau. Saya sarankan bersurat ke pemerintah desa supaya pemerintah desa kumpul masyarakat, tapi sampai saat ini tidak dilakukan,” jelasnya.

“Mengenai keresahaan masyarakat ini saya berharap pemerintah dalam hal ini Pemkab Buton dan pihak terkait lainnya agar segera dituntaskan supaya tidak menimbulkan keresahaan dimasyarakat,” harapnya.

Sebagai informasi, sebagian besar masyarakat Kumbewaha menolak penambangan Mangan di desa tersebut. Hal itu dapat dilihat adanya surat pernyataan masyarakat yang dibubuhi tanda tangan.

Sementara itu, pihak PT Malindo Bara Murni belum bisa dikonfirmasi.

Reporter: Waode Yeni Wahdaniah

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here