Gubernur Minta Bupati Wakatobi Melapor Tiga Nelayan Sultra Disandera Kelompok Abu Sayyaf

Screenshot video tiga nelayan asal Sultra jadi korban penyanderaan kelompok teroris Abbu Sayaf di Filipina. (Screenshot video)

Kendari, Inilahsultra.com – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi mengaku belum menerima laporan resmi terkait penyanderaan tiga warga Wakatobi dari Pemerintah Daerah (Pemda) Wakatobi.

“Kita harus terima dulu laporan resmi dari Pemerintah Wakatobi, bupati belum melapor sampai sekarang. Bupati melaporlah secepatnya agar kita bisa juga meneruskan dan meminta kepada pemerintah pusat untuk membebasakan warga kita yang disandera,” ujar Ali Mazi saat ditemui usai membuka Festival Seni Qasidah Berskala Besar Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara di tugu MTQ, Kamis 28 November 2019.

“Ini masalah antara negara yang bisa diselesaikan. Saya berharap pemerintah pusat bisa menyelesaikan dan membebaskan warga kita yang disandera,” tambahnya.

-Advertisement-

Politikus NasDem ini berpesan kepada masyarakat Sultra terutama nelayan untuk melewati Air Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), dan tidak mendekati wilayah atau tempat tiga warga Wakatobi yang disandera.

“Saya mengimbau masyarakat mencari nafkah biar di wilayah kita saja, jangan keluar di wilayah orang lain, karena akan mempersulit penyelesaian ketika ada masalah seperti tiga warga yang disandera itu,” ujarnya.

Untuk diketahui sebelumnya, tiga nelayan Warga Negera Indonesia (WNI) disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina. Nelayan asal Indonesia meminta bantuan kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo agar mereka dibebaskan.

Ketiga nelayan yang disandera yaitu, Maharudin Lunani (48), Muhammad Farhan (27) dan Samiun Maneu (27). Mereka diculik kelompok bersenjata dari kapal pukat yang terdaftar di Sandakan, Perairan Tambisan, Malaysia.

Permintaan tebusan disampaikan langsung oleh salah satu korban melalui video berdurasi 44 detik yang diunggah di media sosial Facebook, Sabtu 16 November 2019 lalu.

Ketiga WNI itu terlihat tengah duduk jongkok dengan telanjang dada. Sementara itu, tiga pria berdiri mengawasi dari belakang sambil memegang senjata.

Dalam video berdurasi 44 detik itu, Maharudin Lunani menyebut, mereka bertiga merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Kabupaten Wakatobi dan Baubau.

“Kami bekerja di Malaysia, kami kena tangkap dari kumpulan Abu Sayyaf tanggal 24 September 2019. Saya harap bos kami membantu kami, untuk membebaskan kami dan juga Presiden Indonesia tolong kami supaya kami bebas dari sini,” terang Maharudin dalam video itu.

Sambung Maharudin, Abu Sayyaf meminta tembusan 30 juta peso atau Rp 8,3 miliar agar mereka bisa kembali ke Indonesia.

Penulis : Haerun

Facebook Comments