Dana Desa 2020 dan Inovasi Literasi Desa

302
 

Literasi Desa secara sederhana dimaksudkan untuk menjaga indeginous knowledge (pengetahuan lokal/asli) tersimpan rapi di memori warga desa. Jika Pengetahuan Lokal Asli dimaksud sudah tersimpan rapi maka agenda selanjutnya adalah melakukan formulasi ide dan gagasan agar pengetahuan tersebut bisa menjadikan warga desa memiliki ruang strategis dalam mendayagunakan sistem pengetahuannya sebagai Life Skill (keterampilan hidup).

Dengan demikian maka proses peningkatan kapasitas warga desa benar-benar dalam rangka memperkaya dan mengupdate sumberdaya lokal yang mereka miliki agar produktif. bahkan kekuatan pengetahuan lokal tersebut bisa menjadi asset yg sangat berharga untuk menghadapi gempuran nilai dan norma baru termasuk pengetahuan atas teknologi modern

Literasi Desa bisa menjamin asset kognisi warga desa untuk menghadapi tata nilai baru (baca : modern) yang dianggap sebagai hal-hal yang rumit dan tak terjelaskan oleh pengetahuan lokal mereka. Literasi Desa bisa memperkaya pengetahuan dan nalar imajinatif warga desa untuk mengurai hubungan-hubungan (simbiosis_mutualisme) pengetahuan lokalnya dengan pemahaman baru,

Dengan Literasi Desa maka warga desa yang terliterasikan memiliki sikap dan semangat optimis berdialektika dengan dunianya yang baru yang selanjutnya lebih mampu menyikapi dinamika kehidupan dengan pikiran, sikap dan tindakan yang lebih konstruktif.

Orang yang terliterasikan bisa lebih mudah untuk menjadi aktor kunci mengatasi problemnya sendiri dan membantu mengatasi masalah orang lain di desanya dan menjadi aktor kunci untuk suatu gerakan untuk membuat semakin banyak orang membaca dan menulis. Konteknya bahwa membaca sebagai budaya akan membantu memperkuat imajinasi kreatif warga desa.

Konteksnya warga desa yang terliterasi bisa mengarsipkan aktifitasnya dengan kemampuan menuliskan apa yang mereka mimpikan, menuliskan fakta-fakta di desanya, menuliskan fenomena serta outputnya apapun dari setiap aktifitas yg melibatkannya, sehingga ikutannya adalah akan memicu budaya menulis dan berbicara, bisa menyampaikan pesan, mengurai informasi, serta pembelajaran atau mengomunikasikan pesan termasuk norma-norma untuk mengatasi masalahnya.

Pada akhirnya Dana Desa bisa berkontribusi untuk menstimulasi kemampuan memahami menjadi kemampuan berkomunikasi dan berpartisipasi aktif dari warga desa yang secara substansi Nilai Partisipasi bisa memicu Tata Kelola Pemerintahan Lokal lebih Demokratis sekaligus melahirkan akuntabilitas sebagai sentral dari literasi desa itu sendiri.

Substansi kekuatan Literasi Desa yg merapikan sistem pengetahuan dan Life Skill (keterampilan hidup) warga yg terliterasi selanjutnya akan lebih mudah didorong dalam urusan teknis penyelenggaraan dan pengorganisasian program dalam Tata Kelola Pemerintahan Desa.

Jika ditarik lebih ke samping, Literasi Desa bisa menampilkan cerita yang kadang berjalan tanpa disadari oleh mereka yang terliterasi. Cerita panjangnya, dialektikanya bisa terus berjalan yang memasuki waktu dan peristiwa budaya yang efeknya bisa melahirkan kondisi kesadaran kolektif yang bersemai di berbagai tempat (di hati warga desa) yang narasinya tak kelihatan tapi tersimpan dalam memori bawah sadar menjadi sistem pengetahuan baru yang telah berdialektika dengan era di mana Desa akan menjadi objek diskursus berbagai kalangan karena terbaca sebagai Locus dengan Potensi yang luar biasa untuk menggerakkan literasi selanjutnya termasuk mendorong partisipasi pembangunan.

Akhirnya kesadaran kolektif untuk memperluas pengetahuan dengan Literasi Desa bisa melahirkan efek domino dalam membangun kesadaran kolektif di segmentasi lain melalui adanya partisipasi aktif rakyat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan berbasis dana desa dan dana lainnya. Akan dipastikan adanya gerakan lingkungan hidup, dan berbagai gairah meliterasikan desa-desa dengan berbagai cara.

Literasi Desa kemudian bisa naik ke level tertentu menjadi sebuah gerakan intelektual untuk menyemaikan ide yang tak kunjung padam, sebagai bagian gerakan meliterasikan seluruh elemen yang ada di Organisasi Pemerintahan Desanya, Lembaga Kemasyarakatan Desa, Kelembagaan Rakyat (kelompok tani, nelayan, pengrajin, dll) termasuk kaum milenial untuk mau berpartisipasi aktif membangun desanya dengan berbasiskan asset kognisi dan sumberdaya lokalnya.

Salam Literasi

Oleh : Ali Samdin
(Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar, Program P3MD)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...