Di Balik Aklamasi Heri Asiku dan Musda Golkar Sultra Tanpa Dinamika

1538
 

Kendari, Inilahsultra.com – Heri Asiku terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu 11 Maret 2020 di Azizah Syariah Hotel Kendari.

Terpilihnya Heri Asiku ini setelah enam calon lainnya memilih mundur dari pertarungan Musda Golkar Sultra.

- Advertisement -

Yakni, Surunuddin Dangga, La Bakry, Arhawi, Abdul Rahman Farisi, Haris Andi Surahman dan Rusmin Abdul Gani.

Dengan mundurnya pesaingnya, Heri otomatis mendapatkan dukungan seluruh pemilik suara yang berjumlah 22 yang terdiri dari 17 DPD kabupaten atau kota, sisanya dari DPP, DPD Sultra dan organisasi sayap mendirikan dan didirikan.

Perebutan ketua Golkar Sultra yang dilepas Ridwan Bae pun tanpa ada riak dan konflik.

Usai terpilih aklamasi, Heri mengaku, hormat kepada seluruh calon yang sempat mendaftar. Menurutnya, keenam calon pesaingnya itu juga pantas memimpin Golkar Sultra.

“Namun begitu berbesar hati ingin bersatu membesarkan Golkar,” kata Heri Asiku saat memberikan sambutan perdana sebagai Ketua DPD Golkar Sultra.

Ia mengaku, salah satu targetnya menjadi Ketua Golkar Sultra adalah membesarkan partai berlambang beringin itu kembali berkuasa di Bumi Anoa.

Selain itu, ingin memenangkan Ridwan Bae sebagai Calon Gubernur Sultra 2024 dan memperjuangkan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto sebagai Calon Presiden 2024 serta memenangkan Pemilu di Sultra di tahun yang sama di semua tingkatan.

“Saya juga menyadari tugas dan tanggung jawab sebagai ketua tidaklah muda. Namun niat dan kerja ikhlas dan dukungan semuanya, saya ingin mengembalikan kejayaan Golkar di Sultra,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua DPP Golkar Nurul Arifin meminta kepada Heri Asiku menyusun kepengurusan yang berspektif gender.

Berdasarkan undang-undang, minimal 30 persen pengurus diisi oleh perempuan.

“(Pengurus perempuan) tidak hanya di badan, tapi pengurus harian dan pleno juga,” tekan Nurul saat menutup Musda Golkar Sultra.

Selain itu, ia juga meminta Heri setelah kepengerusan tersusun, maka memikirkan agenda selanjutnya, Musda Golkar di kabupaten atau kota.

*Musda yang Tak Lagi Dinamis*

Musda Golkar yang baru selesai melahirkan fenomena politik baru di Bumi Anoa. Bila Golkar selama ini dikenal dengan dinamika politiknya, namun kali ini terlihat sangat berbeda.

Musda tanpa ada riak dan dinamika menjadi penutup massa jabatan Ridwan sebagai Ketua DPD Golkar Sultra dua periode.

Menurut Ridwan, Musda Golkar harus berakhir dengan damai. Untuk itu, sebagai penanggung jawab Musda, ia terus menjagai dan tidak ingin terjadi keributan.

“Saya adalah penanggung jawab musda. Maka saya bertanggung jawab jika terjadi apa-apa. Makanya saya jagai,” imbuhnya.

Ridwan menjelaskan, kompromistik calon dan pemilik suara melahirkan aklamasi terhadap Heri Asiku.

Menurutnya, hal ini sebagai bentuk kedewasaan politik Golkar di penghujung jabatannya.

“Ini bentuk kedewasaan politik Golkar tidak mengdepankan konflik,” tuturnya.

*Cenderung Memuluskan Heri, Menjegal Calon Lain*

Aklamasi terhadap Heri Asiku diduga sudah direncanakan jauh hari. Hal ini dilakukan karena hanya Heri yang bisa dipercaya melanjutkan kekuasaan Ridwan di partai beringin itu.

Namun, mantan Bupati Muna dua periode itu membantahnya.

Ia menyebut, semangat Golkar menentukan ketua melalui musyawarah mufakat dimulai dari DPD dua dan calon.

Dari musyawarah itu, dicari yang terbaik. Sebanyak tujuh calon yang tampil, Heri Asiku dipilih menjadi paling terbaik.

Menurutnya, dipilihnya Heri bukan karena skenario tetapi adalah pilihan para pemilik suara.

“Yang tampil semua kader Golkar yang terbaik. Hanya kemauan DPD kepada Heri Asiku,” bebernya.

Ridwan menyebut, semua calon yang maju adalah saudaranya dan terbilang akrab dengannya. Namun, lagi-lagi Ridwan menyerahkan sepenuhnya kepada DPD selaku pemilik suara untuk menentukan pilihannya.

“Semua calon bukan orang lain. Bukan karena kedekatan (dengan Heri Asiku). Semua dekat dengan saya. Kompromistik saya dengan DPD II yang terbaik bahwa Heri Asiku,” katanya.

Ia menuturkan, Heri dinilai sebagai figur yang tepat memimpin Golkar untuk menghindari konflik di internal partai.

“Figur yang tepat untuk hindari konflik di internal,” alasnya.

Meski Heri memimpin Golkar Sultra, Ridwan menegaskan tetap akan bertanggung jawab atas kebesaran partai termasuk bersama menentukan arah dan kebesaran partai.

Penulis : Pandi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...