Corona vs Penyakit Sosial

471
 

Oleh : La Ode Rahmat

Wabah corona yang menyerang warga Sultra menjadi momok menakutkan. Virus ini menjadi perbincangan serta menjadi topik hangat dan  “seksi” untuk diulas.

- Advertisement -

Berbagai upaya dilakukan untuk mengunci penyebaran virus ini, mulai dari cara rasional dengan mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah maupun dengan cara yang konyol seperti mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol.

Di kalangan medis corona menjadi tantangan yang harus dipecahkan solusinya untuk menyembuhkan pasien. Apalagi sampai saat ini belum ada obat yang mujarab untuk mengobati pasien yang terinfeksi virus corona.

Pemerintah menempuh berbagai cara taktis untuk mengantisipasi penyebaran wabah yang mematikan ini berbagai seruan dan imbauan dilakukan bahkan dengan meliburkan anak sekolah dan aparatur negara disarankan bekerja dari rumah.

Fenomena corona tidak saja disikapi secara medis namun sudah masuk ranah politik bahkan memunculkan beberapa fenomena sosial terkait corona seperti:

Pertama. Masyarakat yang mematuhi protokol kesehatan (masyarakat jelita) kelas menengah, kapital, borjuis patuh dan tertib dengan imbauan ini. Maklum mereka mapan secara ekonomi kebutuhan mereka tercukupi tidak perlu keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Cukup membuka pasar online sekali enter semua sudah di depan pagar kebutuhan yang dipesan.

Namun sayang kelas ini “anti” sosial tidak mau berbagai dengan tetangga rumah maupun tetangga lainnya.

Kedua. Pencari keuntungan. Pada sisi yang lain ada kelompok masyarakat mencari keuntungan di tengah wabah.

Penimbun masker dan sembako memanfaatkan corona untuk mengeruk keuntungan. Di berbagai apotek dan toko, masker menjadi barang langka kalau pun ada di pasaran, harganya selangit.

Bagitu juga dengan sembako harganya sudah tidak terkontrol dengan alasan barang langka. Pedagang tidak mau rugi jadi berbagai alasan dilontarkan untuk membernakan dampak itu.

Ketiga. Keluarga corona. Pasien yang terinfeksi corona akan dicap keluarga corona bahkan dijadikan aib oleh masyarakat sekitarnya.

Beban sosial yang harus ditanggung keluarga pasien begitu berat. Keganasan corona tidak hanya menyerang yang terinfeksi tapi juga memecah keutuhan sosial masyarakat.

Di Jawa Tengah dan Kabupaten Gowa Sulsel masyarakat menolak pemakamana jenazah “corona”. Hukuman ini tentu saja tidak manusiawi akibat kurangnya pemahaman masyarakat.

Hadirnya berbagai fenomena tersebut mengindikasikan masyarakat mulai menipis solidaritas sosialnya.

Jiwa gotong royong menjadi pudar di tengah wabah corona padahal dalam menghadapi situasi corona dibutuhkan kerja sama dengan berbagai elemen.

Bagi keluarga yang terserang virus corona sebaiknya jangan dikucilkan sebab tidak ada manusia yang menghendaki terpapar corona dan setiap orang yang terpapar corona bukan akibat dari kerusakan moralitas dan atau kriminal. Justru yang harus kita beri sanksi para koruptor dan oknum yang mencari keuntungan di tengah wabah corona.

Penulis adalah Direktur Aman center

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...