Kapal Angkut Alat Berat dan Heli Milik PT Jhonlin di Tengah Pandemi Menuai Kritik

8739
 

Kendari, Inilahsultra.com – Kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) memuat alat berat milik PT Jhonlin Batu Mandiri (JBM) sandar di Pelabuhan Kasipute, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana, Sabtu 25 April 2020 siang kemarin.

Terkait sandarnya kapal itu, Wakil Ketua DPRD Sultra, Muhammad Endang SA geram setelah mendengar kabar adanya sebuah kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) yang membuang sauh di Pelabuhan Kasipute, Bombana.

- Advertisement -

“Bukan saja karena adanya pembatasan aktivitas di pelabuhan kecuali untuk hal-hal khusus, tapi juga karena perlakuan Pemda Bombana terhadap para awak kapal setelah turun di darat,” tegas Endang, Minggu 26 April 2020.

Endang mengaku, mendapat laporan bahwa awak kapal yang mengangkut alat berat dan helikopter seperti sangat istimewa. Mereka turun dikawal aparat, tanpa prosedur protokol standar penanganan Covid-19.

“Para awak yang notabene orang luar Bombana itu, dibiarkan melenggang masuk tanpa dilakukan penanganan standar Covid, termasuk disiapkan tempat isolasi yang bisa pantau,” sambungnya.

Padahal, lanjut anggota DPRD Sultra dari Dapil Bombana-Konsel ini, perlakuan berbeda diberikan kepada mereka yang hendak keluar masuk Bombana.

Saat di pintu kawasan PPA, luar biasa ketatnya. Mereka diminta menunjukan KTP, surat keterangan izin dari pemerintah desa/kelurahan jika keluar Bombana termasuk disemprot disinfektan.

“Orang dari wilayah luar Sultra, seperti diberi karpet merah. Saya benar-benar menyesalkan hal ini,” ujarnya.

Masih kata Endang, ini benar-benar bukti nyata bahwa Pemda Bombana terlihat tidak berdaya menghadapi corporasi.

“Saat Kementerian Perhubungan, yang ditindaklanjuti Dinas Perhubungan Sultra melarang aktivitas bongkar muat orang di pelabuhan kecuali logistik, BBM dan hal-hal terkait penanganan Covid, Pemda Bombana justru mengizinkan kapal yang diduga milik PT Jhonlin untuk membuang sauh di pelabuhan,’ bebernya.

Endang meminta Dinas Perhubungan Sultra mengivestigasi kasus ini. Kenapa aparatnya dibawah bisa memberi izin kapal  berlabuh. Apakah Pelabuhan Kasipute itu memang boleh diperuntukan untuk sandarnya kapal jenis Landing Craft Tank (LCT).

“Apalagi di masa seperti sekarang. Ketika kita bertarung melawan Covid, ini malah puluhan orang dari luar Sultra dengan enteng masuk Bombana, dikawal aparat lagi,” tuturnya.

Endang sangsi jika Pemda Bombana bisa tegas kepada perusahaan perkebunan tebu itu jika melakukan pelanggaran lingkungan di areal konsensinya.

“Terkait nyawa (potensi penyebaran Covid) saja tidak berani ditindak, apalagi kalau melanggar aturan soal lingkungan hidup,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut Endang meminta Pemda Bombana, termasuk Satgas Covid 19, memberi penjelasan kenapa orang-orang itu bisa masuk leluasa dengan perlakukan berbeda dengan warga lain yang masuk Bombana di beberapa pintu masuk.

“Apa istimewanya awak-awak kapal itu. Apa saja yang dibawa kapal itu,  Syahbandar kabarnya bahkan tidak menerima dokumen apapun soal ini,” ungkapnya.

Endang juga meminta agar Pemprov dan Kapolda Sultra bertindak tegas terhadap masuknya kapal raksasa membawa banyak orang luar dan mengindahkan protokol kesehatan standar.

Penulis : Onno

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...