
Jabatan yang elegan dengan jaminan eksistensi menjadi faktor utama manusia menjadi penjahat. Ayolah! Kita manusia, siapa yang dengan tega menyiram air keras dengan risiko yang telah diketahuinya bahwa hal tersebut adalah sebuah kejahatan. Tapi, apapun risikonya seseorang mampu melakukannya jika ia diberi tekanan dengan komisi yang melimpah, walaupun mereka adalah aparat yang harusnya mengayomi masyarakat itu sendiri. Sesungguhnya jika seorang hamba diperintahkan untuk merasakan pengawasan Allah swt didalam ibadahnya dan menghadirkan kedekatan-Nya terhadap dirinya sehingga seakan-akan dirinya melihat Allah maka hal ini sangatlah sulit. Untuk itu, hendaklah dirinya meminta pertolongan dengan keimanannya bahwa Allah swt melihatnya, mengetahui segala yang tersembunyi dan tampak padanya, yang batin maupun yang lahir dan tak satupun dari perkaranya yang tersembunyi dari-Nya.
Kita ketahui bahwa sesuatu yang disembunyikan dengan sekuat apapun kita merahasiakan hal tersebut, apabila itu adalah sebuah kesalahan, maka hal tersebut akan terungkap dengan sendirinya. Isu dendam pribadi menjadi alasan orang-orang yang terungkap kejahatannya. Padahal kita ketahui pasti bahwa Jabatan selalu menjadi alasan manusia untuk menjadi bodoh dan berdosa di mata Tuhan. Sering kali manusia melupakan keimanan dengan dasar jabatan yang identik dengan kemegahan. Beberapa orang telah menjadi korban dari sebuah politik, contohnya pada pemilihan kepala daerah. Di jaman politik yang kurang etis dan keimanan yang rendah, tidak sedikit orang-orang yang kompeten justru disingkirkan dari jabatan yang selayaknya.
Dunia ini hanyalah panggung sandiwara sebagaimana yang terjadi seperti sekarang ini. Sebagai masyarakat yang beriman, bagaimana kita menolong negara yang penuh problema ini?. Bagaimana mereka memaafkan dirinya atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya?. Manusia selalu dibutakan oleh sesuatu yang material untuk memperkaya diri mereka. Memenuhi hasrat kemegahan. Saling berbincang kekayaan yang dimiliki. Harta yang haram sangat dibenci oleh Allah. Sedang, para pejabat tahu akan hal itu. Seharusnya sebagai manusia kita sadar akan sesuatu yang salah. Padahal, banyak sekali masyarakat yang lebih membutuhkan hal yang layak seperti pakaian, makanan, dan lain sebagainya.
Kasus-kasus diatas bukanlah kasus yang pertama, beberapa kali kasus ini selalu menjadi perdebatan di telinga keluarga korban politik dan lingkungan masyarakat. Maka, dari kasus-kasus tersebut sebaiknya sebagai masyarakat yang baik, cinta negara dan banyak harapan yang dibebankan kepada negara harusnya kita menjadi saksi atas kebisuan dari segala kesalahan-kesalahan para penguasa yang tidak kompeten dan tidak memiliki profesionalisme dalam mengerjakan tugasnya. Banyak sekali harapan-harapan yang ditanamkan kepada anak muda yang menjadi bibit masa depan. Oleh karena itu, kesadaran sangat diperlukan dalam menanggapi kasus-kasus diatas. Sebagaimana yang harus dilakukan pada bibit-bibit masa depan negara ini adalah mendidik mereka untuk menjadi pribadi yang cinta atas keimanan, dengan akhlak yang mulia, disiplin, cerdas, independen dan jujur.
Sri Hardianti Marsawal
Mahasiswi Akuntansi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.




