
Tim peternakan BPTP-Balitbangtan Sulawesi Tenggara bersama Disnak Kabupaten Konsel, Tim Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara telah melakukan gerakan massal penanganan kesehatan hewan.
Kendari, Inilahsultra.com– Belum lama ini, di Desa Tosiba Kecamatan Palangga Kabupaten Konawe Selatan telah terjadi penurunan kesehatan ternak secara masal, khususnya sapi.
Menyikapi hal itu, tim peternakan BPTP-Balitbangtan Sulawesi Tenggara bersama Disnak Kabupaten Konsel, Tim Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara telah melakukan gerakan massal penanganan kesehatan hewan.
Gerakan massal tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Konsel, dengan menurunkan 10 oang tenaga teknis dan didukung oleh 2 orang Dokter Hewan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara serta 3 orang tenaga teknis BPTP-Balitbangtan Sulawesi Tenggara.
“Dalam kurun 2 hari sebanyak 700 ekor sapi telah tertangani, dan Insha Allah dua hari ke depan akan tuntas dan terlayani semua,” kata Yusuf.
Selanjutnya yusuf menyampaikan bahwa total populasi sapi di desa Tosiba, kurang lebih 1500, mudah-mudahan pelayanan tersebut membuahkan hasil yang signifikan.
Metode pelayanan dilakukan dengan cara membentuk pusat-pusat layanan di masing-masing dusun. Jenis pekayanan kesehatan yang dilakukan antara lain: pelayanan infeksi cacing hati, cacing lambung, pemberian multi vitamin dan pemberian antibiotik pada ternak yang sakit.
Di hadapan peternak sapi, Ir. Yusuf Usman, MSi, menyampaikan bahwa tanda-klinis serangan penyakit hewan, antara lain : dalam waktu kurang lebih dua bulan kondisi kesehatan ternak berangsur-angsur menurun (badan menjadi kurus), diikuti denga diare yang berkepanjangan, 3) bulu terlihat kusam nampak seperti komplikasi serangan cacing hati dan cacing lambung lambat laun terbentuk odema (pembengkakan yg berisi eksudat) pada mulut bagian bawah, selanjutnya muncul gejala kelumpuhan.
“Peternak harus tahu tanda-tanda tersebut sebelum ternak sapi menjadi kurus dan lumpuh” kata Yusuf.
Pada kondisi tersebut biasanya peternak terpaksa menjual murah, sehingga nilai kerugian ekonomi mencapai 60-90 persen.
Reporter : La Ode Pandi Sartiman
Editor : Rido




