Kadis Pariwisata Muna : Festival Liangkabori Genjot Perekonomian Masyarakat

247
Bupati Muna, LM Rusman Emba membuka Festival Liangkabori ditandai dengan pemukulan gong.

Raha, Inilahsultra.com-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna menyelenggarakan Festival Liangkabori di Desa Liangkabori Kecamatan Lohia. Festival Liangkabori itu bertujuan untuk mendorong pendapatan masyarakat hingga mengurangi angka pengangguran.

- Advertisement -

Festival Liangkabori dengan menyusun tema”Daseise Lalo Damowanu Liwu,” diisi dengan berbagai kegiatan seperti, Popanga (ritual budaya), pembuatan Tunuha, Lomba Modero, Lomba Rambi Wuna dan Lomba Gambus.

Bupati Muna, LM Rusman Emba yang membuka Festival Liangkabori menyampaikan, objek wisata prasejarah liangkabori telah mendunia.

“Kemarin ketemu staf ahli Kementerian Pariwisata, ternyata 20 tahun lalu pernah datang di Muna, menyatakan salah satu referensi Kaghati (layang-layang) tertua di dunia berada di Gua Liang Kabori (Gua Metanduno). Hal ini akan menjadi ikon Kabupaten Muna,” katanya.

                       

Ia menyampaikan, bahwa di tahun 2018 telah menganggarkan Rp 1,5 miliar untuk pengembangan objek wisata, akan tetapi belum terealisasi. Sehingga 2019 nanti, kembali dianggarkan Rp 1,1 triliun untuk pengaspalan menuju obyek wisata Liangkabori.

“Akses menuju Gua Layang-layang (Gua Metanduno) telah dibangun tahun ini, alhamdulillah telah selesaikan,” ujarnya.

Perhatian Pemda terhadap pengembangan objek wisata, ujar Rusman bukan hanya menghayal, namun telah melakukan langkah-langkah.

Selain itu, Ia menambahkan bahwa jalan yang berada di Kecamatan Lohia telah dianggarkan Rp 7,5 miliar.

“Mudah-mudahan tidak ada rintangan tahun depan bisa terealisasi dan konsep pembangunannya seperti jalan di Jalan Poros Palangga-Waara dengan lebar 9 hingga 13 meter,” ucap Rusman.

Sementara itu, kekuarangan air yang melanda warga Kecamatan Lohia dan Kontunaga telah dianggarkan di tahun 2018 namun masih ada rintangan.

“Untuk memenuhi kebutuhan air sudah dianggarkan Rp 10 miliar melalui dana pinjaman, namun masih terkendala. Tetapi alhamdulillah tahun ini melalui balai memberikan bantuan Rp 10 miliar di Kecamatan Kontunaga, hal ini bisa memenuhi kebutuhan air di Desa Liangkabori,” ucapnya.

Baca Juga :  BPS Butur Prediksi Jumlah Pengangguran Butur Meningkat 2 Persen

Sementara itu, Plt Kadis Pariwisata Muna, Amiruddin Ako menerangkan, Liangkabori telah meraih situs sejarah terpopuler dalam ajang Anugrah Pesona Indonesia. Sehingga hal ini menjadi dasar pelaksanaan festival Liangkabori.

“Segiat apapun Pemda Muna maupun Dinas Pariwisata memajukan pariwisata, tapi jika  tidak mendapatkan  partisipasi maupun keterlibatan masyarakat hal itu mustahil dicapai,” imbuhnya.

Amiruddin menyebutkan, pariwisata merupakan tambang yang tidak merusak kehidupan. Sebab pariwisata merupakan tambang emas.

“Pariwisata kalau dikelola dengan baik akan berdampak pada perkembangan sektor lain terutama berdampak pada pendapat masyarakat. Ini bisa dilihat para penjual yang ada di objek wisata Pantai Meleura kalau sepi penghasilan menjual bisa mencapai 1 juta per hari, kalau rame paling sedikit 2 hingga 3 juta,” bebernya.

Menurut Amirudin, walaupun Kabupaten Muna tidak kaya dengan tambang, tapi potensi yang bagus digarap tambang pariwisata.

“Dengan DAK Rp 3,4 miliar yang dimiliki Dinas Pariwisata, berharap pemerintah desa untuk lebih proaktif dalam mengembangkan obyek wisata. Sebab wisata bukan hanya milik pemda namun milik desa, sehingga kami melakukan komunikasi dengan dDinas Pemberdayaan Masyarakat  Desa dan Bappeda,” tandasnya.

Reporter : Iman

Editor      : Aso

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...