Peresmian Smelter Tambang di Tengah Bencana Banjir, WALHI : KPK Tidak Akan Tutup Mata

841
Direktur Ekskutif Walhi Sultra Saharuddin

Kendari, Inilahsultra.com – Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi dan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar baru saja meresmikan pabrik pengolahan/pemurnian nikel di Kabupaten Kolaka Sabtu pekan lalu.

Sejumlah pejabat tinggi pusat, seperti Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi hingga Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM ikut hadir dalam acara gunting pita tersebut.

- Advertisement -

Adalah PT Ceria Nugraha Indotama, perusaahan tambang yang disebut akan membangun industri smelter di kabupaten berjuluk Kota Kakao.

Oleh Derian Sakmiwata, Direktur Utama PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria) menyebut total investasi untuk project tersebut menembus 993 juta US$ atau setara Rp 14,5 triliun. Smelter yang tengah dibangun PT CNI menggunakan teknologi RKEF atau rotary kiln electric furnace. Teknologi terbaru dan pertama pertama diterapkan di Indonesia.

Mirisnya, seremoni peresmian industri smelter tambang ini berlangsung ditengah duka banjir bandang Sultra yang terjadi salah satunya akibat kontribusi aktifitas tambang.

Ramai pemberitaan terkait bencana banjir yang merendam pemukiman dan menyebabkan ribuan warga Sultra menjadi pengungsi tak juga menyurutkan niat pemerintah menekan investasi tambang di Bumi Anoa.

Berkaca dari bencana saat ini, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sultra, Saharuddin menilai eloknya pemerintah mulai merem kebijakan yang berkaitan dengan tambang.

Bukan tanpa sebab, mudarat tambang jauh lebih besar. Kendati pemerintah dan perusahaan tambang mengiming-imingi kontribusi PAD dan lapangan kerja, janji manis itu tak setara dengan tangis masyarakat yang kampungnya tenggelam akibat masifnya tambang di Sultra.

“Dimana mereka ketika banjir, mereka yang menikmati uang Sultra. Satu kampung tenggelam tidak sebanding dengan pekerjaan yang dijanjikan (di sektor tambang). Kalau pun ada tenaga kerjanya direkrut itu hanya kisaran 20 persen untuk lokal. Apalagi sejenis industri smelter,” ujar Saharuddin.

Baca Juga :  Pemkab Mubar Ancam Tarik Randis yang Belum Bayar Pajak

Gubernur Ali Mazi sendiri beberapa kali menampik korelasi tambang dengan bencana banjir di provinsi yang dipimpinnya. Termasuk ketika klimaks bandang menerjang Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Konawe yang memutus akses jalan dan menenggelamkan sawah dan ratusan pemukiman penduduk, Ali Mazi berdalih bencana itu hanya siklus tahunan.

Dimana, kata Ali Mazi, puluhan tahun lalu Sultra sempat dilanda banjir kala aktifitas tambang belum mengemuka. Itu disampaikan politisi NasDem tersebut ketika menghadiri HUT Pasar Wajo pekan lalu.

Ali Mazi dan wakilnya, Lukman Abunawas justru beda pendapat soal penyebab banjir di Sultra. Lukman tegas menyatakan bencana kali ini disebabkan oleh banjir.

Statemen Lukman Abunawas tak berbeda jauh dengan kajian WALHI Sultra.

“Dulu pernah terjadi tapi tidak separah ini. Hujan ini merata di seluruh kabupaten tapi kenapa hanya enam kabupaten yang dilanda banjir,” cetus Saharuddin menanggapi pernyataan Gubernur Sultra.

Dalam kajiannya, WALHI menilai tambang menjadi satu dari tiga faktor pendulang bencana banjir di Sultra.

Tahun 2006 menjadi momen paling masif ekspansi tambang di Sultra. Kabupaten yang disasar mencakup Konut, Konawe dan Kolut dan Kolaka. Ini adalah empat kabupaten dengan posisi wilayah tambang besar di Bumi Anoa. Kini daerah tersebut memanen bencana.

“Memang itu tidak tunggal. Tapi pasti (ada hubungan tambang dan banjir). Karena begini tambang berkontribusi pada sedimentasi yang terjadi di hilir. Aktifitas tambang perkebunan dan pembukaan lahan. Sedimentasi di DAS Lasolo tidak terjadi begitu saja. Ada tiga faktor itu,” urai Saharuddin.

Merunut data dari Global Forest Watch, sejak 2001 hingga 2017 di Konawe Utara laju penyusutan hutan mencapai 8,6 persen pertahun. Tutupan pohon di Konut menurun berkisar 38.400 ha.

Baca Juga :  Endang dan Bos Antam Masuk Bursa Wakil Ridwan di Pilgub Sultra

“Di Konawe 45.600 Ha. Penyusutan hutan 8,7 persen. Di Kolaka 94.800 ha penyusutan kawasan hutan 15 persen. Terparah di Konsel penyusutan hutan sampai 20 persen. Penyusutan pohon sampai 63.200 Ha,” rincinya.

Terkait agenda pembangunan industri smelter baru, WALHI menyebut mestinya pemerintah memiliki kajian berapa ideal jumlah di smelter di Provinsi yang digawangi Ali Mazi-Lukman abunawas. Dengan luas daratan yang tak begitu besar, Sultra harusnya tak disesaki industri sejenis.

“Di Konawe sudah ada PT VDNI, Konsel juga ada, Kolaka sekarang bertambah lagi,” ujarnya.

Dengan kehadiran PT Ceria Nugraha Indotama di Kolaka, lanjut Saharuddin, praktis kini ada dua perusahaan dengan core bisnis sama menggarap hasil kerukan tanah nikel di kabupaten yang terkenal dengan komoditas kakaonya tersebut.

Dalam catatan WALHI, PT Ceria Nugraha Indotama memiliki rekam jejak buruk. Kata Saharuddin, bukan kali pertama perusahan ini menjanjikan pembangunan pabrik smelter di Sultra. Seyogyanya, Gubernur Ali Mazi tak gegabah memberi lampu hijau pada perusahaan tersebut.

“Smelter yang dibangun saya tidak yakin. Cuma akal-akalan untuk mendapatkan kuota ekspor. Sudah dua kali. Mereka berhasil meyakinkan pemerintah, seolah-seolah mau bangun smelter padahal hanya cara untuk dapat kuota ekspor,” terang Saharuddin mengungkap modus dibalik pembangunan pabrik Smelter PT Ceria.

Tahun sebelumnya, PT Ceria juga menjanjikan hal serupa. Namun, realisasi nihil.

“Silahkan media cek, setelah batu pertama ini apakah akan ada peletakkan batu kedua, ketiga atau keempat,” sambungnya.

WALHI mencium adanya potensi kolusi antara pemerintah dan pemilik perusahaan di tengah project bernilai triliunan tersebut.

Gubernur Ali Mazi, Lanjut Saharuddin semestinya belajar banyak dari kasus menimpa sejumlah petinggi Sultra seperti Nur Alam dan Aswad Sulaiman yang diseret KPK akibat permainan IUP tambang.

Baca Juga :  DAK APBD-P Butur Bertambah Rp 16 Miliar

“KPK tidak akan tutup mata. Wilayah Sultra masuk zona merah artinya ada kemungkinan pejabat pemerintah sini akan ditangkap nanti. Silahkan saja bermain-main. Saya ingatkan selincah apapun berkolusi pasti akan ketahuan. Semua aktifitas dipantau KPK, kalau ada yang berlaku curang ya kawan ketahuan,” cetusnya.

Penulis : Siti Marlina
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here