Saddil Ramdani Angkat Bicara soal Dugaan Penganiayaan

3283
 

Kendari, Inilahsultra.com – Buntut kasus dugaan penganiyaan dan pengeroyokan, bintang muda sepak bola Timnas, Saddil Ramdani akhirnya angkat bicara.

Saddil Ramdani bercerita, sebelum kejadian itu, korban bersama rekan-rekannya sering pesta minuman keras (miras) di belakang rumahnya. Saat pesta miras, mereka menyanyi sambil menyinggung ibunya.

- Advertisement -

“Lagu yang mereka nyanyikan lagu kematian yang menyinggung mama saya,” terang Sadil Ramdhani saat dikonfirmasi melalui WhatsAppnya, Senin 6 April 2020 kemarin.

Saat itu, sambung pemain Bhayangkara FC ini, ibunya melarang untuk miras di tempat itu. Namun, ibunya mendapat balasan kata tak pantas dari mereka.

“Apa urusan kalian, kami mabuk di sini haknya kami apa urusan dengan kamu, mama saya digituin,” ucap Saddil menirukan ucapan korban dan rekan-rekannya.

Setelah kejadian itu, ibu Saddil tidak lagi menghiraukan mereka. Kemudian satu minggu berikutnya, korban bersama La Sabar kembali menggelar pesta miras di tempat yang sama. Ironisnya, kata Saddil, mereka meminta uang kepada ibunya untuk membeli minuman keras.

“Ibu saya memberikan uang pun diberikan dan hampir setiap minggu datang untuk mabuk di sana. Karena keterusan, ibu saya akhirnya tak mau lagi memberikan uang dan melarang mereka berpesta miras di basecamp itu,” bebernya.

Menurut Saddil, ibunya beralasan melarang mereka minum karena menganggu ketenangan tetangga. Namun, permintaan ibunya itu dibalas dengan kata-kata kasar. Bahkan, salah satu dari minum mereka mengamuk serta memaki ibunya dengan bahasa yang tidak pantas.

“Saya mencari mereka, karena mereka selalu mabuk bersama Sabar dan teman-temannya, mereka selalu mencari kesalahan saya punya ibu. Meski ibu diperlakukan seperti itu, saya tetap melarang untuk melaporkan perbuatan rekan korban ke polisi karena akan berdampak kepada saya sendiri,” katanya.

Karena sudah kelewatan, Saddil mengaku, sudah kehabisan batas kesabaran sehingga menindak pemuda-pemuda itu. Atas tindakan penganiayaan itu, Saddil akan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Atas perbuatanku, saya tanggung jawab, agar mereka tidak menganggu ibu saya lagi,” imbuhnya.

Saddil menambahkan, nama besar dan ketenaran tidak penting dan tidak ada gunanya ketimbang harga diri orang tua dan keluarganya.

Sementara itu, menurut keterangan korban Irwan (25), kejadian itu bermula ketika Saddil datang bersama dua rekannya. Kedatangan Saddil, mencari seseorang bernama Sabar di sebuah basecamp tempat kerjanya. Namun, pria yang dimaksud tidak ada di tempat.

“Saat itu saya sendirian, lalu Saddil menyuruh saya tetap di tempat. Katanya Saddil, tunggu di situ jangan bergerak. Lalu Saddil keluar dan rekan Saddil kemudian tiba-tiba memukul saya, Saddil masuk ke rumah saya kira mau apa. Saya lihat dia ambil parang,” Aku Irwan saat ditemui awak media di rumah keluarganya, di Jalan Chairil Anwar, Kecamatan Wuawua, Jumat 3 April 2020 lalu.

Kata Irwan, saat Saddil memegang parang, ia membabi buta. Tembok, tandon air dihantam. Setelah itu, Saddil menghantam kepalanya menggunakan ujung parang hingga ia terjatuh. Saat posisi terjatuh, Saddil menyuruh penghuni rumah untuk menelepon Sabar dan Saddil sempat berkomunikasi dengan Sabar.

“Saya kembali diparangi oleh Saddil ketika salah seorang rekan Saddil mencoba membangunkan saya, setelah bangun saya berjalan untuk meninggalkan tempat itu. Tapi, Saddil kembali menendang saya,” bebernya.

Korban mengaku, Saddil datang dalam keadaan mabuk, karena ia mencium bau minuman. Sementara dua teman Saddil datang dengan tangan kosong melakukan pengeroyokan terhadap dirinya. Saat itu, korban berhasil menyelamatkan diri dan melaporkan kejadian itu ke SPKT Polres Kendari.

“Setelah diperiksa, lalu diberikan surat pengantar untuk melakukan visum di Rumah Sakit Bhayangkara. Hanya dikasi surat pengantar visum, tidak ada surat laporan polisi,” ucap Irwan.

Keesokan harinya, sambung Irwan, Sabtu 28 Maret 2020, ia diwakili saudaranya bernama Adrian melaporkan kembali kasus tersebut. Itu pun dalam bentuk laporan informasi, bukan laporan polisi.

Korban juga mengetahui, Sabar sempat cekcok dengan ibu Saddil. Hal itu diduga sebagai pemicu Saddil mengamuk hingga melakukan pengeroyokan dengan membabi buta.

“Saddil membabi buta dan salah sasaran, banyak itu dia burukan parang,” ungkapnya lagi.

Sementara salah seorang keluarga korban, Ali mengatakan, Wa Ode Dai (ibu Saddil) sempat datang ke rumah keluarga korban tempat korban dirawat. Namun kedatangannya saat itu, hanya menanyakan pemilik rumah bukan menayangkan kondisi korban.

“Saya tegaskan, tidak akan menghentikan proses hukum yang sudah berjalan ini, kami tidak akan cabut laporan. Walaupun mereka minta maaf tapi kami tetap lanjut ke jalur hukum,” pungkasnya.

Untuk diketahui, insiden itu terjadi di Jalan Khairil Anwar, Kelurahan Wua-wua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Jumat, 27 Maret 2020 lalu. Atas kejadian itu, keluarga korban melaporkan kejadian tersebut di SPKT Polres Kendari dengan Laporan Polisi LP/109/III/2020/Sultra/Res Kendari, Sabtu, tanggal 28 Maret 2020.

Kasat Reskrim Polres Kendari, AKP Muhammad Sofwan Rosidi membeberkan, perkara ini sudah naik ketingkat penyidikan dan sekarang Saddil berstatus sebagai tersangka. Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, penyidik sudah melakukan pemeriksaan terhadap Saddil dan beberapa saksi lainnya.

“Selama ini Saddil Ramdani diwajib laporkan, tetap jadi tersangka. Sedangkan untuk penahanannya itu kewenangan penyidik asal memenuhi syarat obyektif dan subyektif,” ucap Sofwan saat ditemui awak media di Polres Kendari, Sabtu 4 April 2020 lalu.

Saddil Ramdani dijerat pasal 351 ayat 1 dan 170 KUHPidana dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 7 tahun.

Penulis : Onno

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...