Penggunaan Dana BOS di Buteng saat Pandemi Covid-19 Tidak Dibatasi

557
 

Labungkari, Inilahsultra.com – Penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ditengah Pandemi Covid-19 tidak dibatasi. Sekolah diberi kewenangan penuh untuk mengatur penggunaan dana BOS.

“Ada perubahan Juknis (Petunjuk Teknis) dana BOS. Penggunaan dana BOS tidak ada batasan seperti tahun sebelumnya. Dulu honor guru sekian persen sekarang tidak ada batasan. Pengunaan dana BOS dikembalikan disekolah, termasuk salah satu programnya itu terkait penanganan Covid-19 di satuan pendidikan masing-masing,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Buton Tengah (Buteng) Abdullah, Selasa 29 September 2020.

- Advertisement -

Penganggaran penanganan Covid di lingkup pendidikan, lanjut Abdullah, sudah diatur dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan nomor SE-4.Mendikbud/2020. Hal itu juga diperkuat dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) 19/2020 untuk pembelian seperti disinfektan, alat cuci tangan, dan sebagainya.

“Di Buteng sendiri setiap sekolah sudah mengadakan alat cuci tangan disetiap ruang belajar siswa. Setiap sekolah juga membagikan masker ke setiap siswanya. Itu dianggarkan melalui dana BOS,” ungkapnya.

Meski penggunaan dana BOS saat ini fleksibel, terang Abdullah, sekolah harus tetap berhati-hati mengunakan anggaran negara. Pasalnya, pengawasan ketat terus dilakukan

“Kita tetap melakukan pengawasan dengan ketat, agar kepala sekolah mengunakan anggaran berdasarkan skala prioritas dan sesuai juknis secara transparan dan akuntabel,” terangnya.

Saat ini, dana BOS tahap kedua sudah di cairkan. Sehingga tinggal kepala sekolah melaporkan pertangungjawabannya untuk pencairan tahap ke tiga.

Di Kabupaten Buteng ada sekitar 34 SMP Negeri serta 4 swasta yang menerima dana BOS. Sedangka sekolah dasar ada sekitar 95 SD Negeri dan 3 SD swasta.

Menurut Abdullah, meski sekolah di Buteng sudah mengadakan alat cuci tangan, sekolah juga harus menerapkan protokol kesehatan saat proses belajar mengajar. Salah satunya dengan mengatur jumlah siswa dalam proses belajar.

“Jika satu kelas dulu 30 siswa kita bagi menjadi dua shift dan jarak tempat duduk masing-masing sejauh satu meter,” bebernya.

Reporter: LM Arianto

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...