Penangkapan Glass Eel Alternatif Usaha Baru Bidang Perikanan di Sultra

308
 

Kendari, Inilahsultra.com – Penangkapan Glass Eel atau benih ikan sidat (Anguilla spp) dapat menjadi usaha alternatif baru bagi nelayan di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Usaha ini sangat diperlukan dalam memenuhi kebutuhan akan benih sidat untuk kegiatan pembesaran karena belum ditemukannya cara untuk memproduksi benih secara buatan.

- Advertisement -

Hal tersebut disampaikan oleh Peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Halu Oleo (UHO), Dr. Utama K. dalam gelaran Bimtek Pengoperasian Alat Tangkap Glass Eel di Desa Muara Sampara, Kecamatan Kapoiala Kabupaten Konawe, Sabtu, 21 November 2020.

“Penangkapan glass eel sangat potensial untuk dikembangkan karena Sultra memiliki banyak aliran sungai besar yang tersebar di hampir semua kabupaten. Ini bisa menjadi peluang usaha baru karena permintaan benih sidat untuk pembesaran dari tahun ke tahun terus meningkat,” ungkapnya.

Untuk mendukung hal tersebut, LPPM UHO melakukan sosialisasi teknologi alat tangkap dan metode pengoperasiannya kepada masyarakat Desa Muara Sampara. Masyarakat di desa ini secara historis telah menjadi penangkap benih ikan bandeng atau nener dan penangkap larva udang dengan menggunakan alat tangkap yang hampir sama dengan alat penangkap benih ikan sidat.

Di satu sisi secara geografis, Sungai Konaweha yang bermuara di desa ini juga merupakan salah satu habitat glass eel yang berasal dari lautan terbuka

“Ikan sidat ini berkembang dan besar di sungai. Namun bertelur dan menjadi benih di laut. Muara Sungai Konaweha adalah salah satu lokasi perantara siklus hidup ikan sidat dari laut ke sungai,” jelasnya.

Sementara, anggota tim peneliti LPPM UHO, Sjamsu Alam Lawelle memperkenalkan, alat tangkap glass eel berbentuk segitiga, berbahan dasar waring dengan bukaan mulut sekitar 8 meter dan di bagian tengahnya menjorok ke belakang yang dilengkapi dengan terpal sebagai penampung hasil tangkapan. Metode operasinya dipasang pada saat air pasang dengan posisi berlawanan dengan arus.

Menurut Alam, terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam usaha penangkapan glass eel, yakni seberapa besar potensi benih ikan sidat yang ada dan bagaimana teknologi alat tangkap yang sesuai termasuk cara pengoperasiannya.

UHO saat ini mengkaji beberapa aliran sungai di Sultra sebagai lokasi penangkapan benih sidat dan perairan di wilayah Desa Muara Sampara adalah salah satu wilayah yang potensial.

“Ya, muara sungai ini sangat potensial berdasarkan hasil riset, sebagai pilot project kami siap bantu alat penangkapan benih sidat untuk masyarakat dan akan kami fasilitasi akses pasar lokal jika ini berjalan dengan baik,” jelasnya.

Secara geografis, Desa Muara Sampara terletak di bagian timur Kabupaten Konawe yang berbatasan langsung dengan Laut Banda. Wilayah ini merupakan outlet dari Sungai Konaweha dan menjadi pintu masuk berbagai jenis larva ikan, sehingga pada saat tertentu (bulan gelap) banyak ditemukan nener bandeng, larva udang (ebi), dan glass eel ikan sidat.

Kegiatan sosialisasi dan bimtek alat penangkapan sidat oleh LPPM UHO ini merupakan bentuk partisipasi UHO dalam mengembangkan inovasi usaha bidang perikanan khususnya penangkapan benih ikan sidat yang belum begitu populer di Sultra.

“Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendukung prospek usaha pembesaran sidat di Sultra dan Indonesia secara luas dimana Indonesia saat ini merupakan salah satu pengekspor ikan sidat terbesar di dunia dengan jumlah pengiriman ke luar negeri mencapai ribuan ton dengan nilai jutaan dolar setiap tahunnya,” tutupnya.

Penulis : Haerun

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...