Diduga Minimnya APD, Seorang Bayi Berstatus PDP di Buteng Meninggal

1324
 

Labungkari, Inilahsultra.com – Seorang bayi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Buton Tengah (Buteng) yang masuk kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP) meninggal dunia. Pasien tersebut diduga tidak mendapatkan penanganan yang maksimal karena minimnya Alat Pelindung Diri (APD).

Bayi perempuan berumur tiga bulan yang diantar oleh orang tuanya ini membawa rujukan dari Puskesmas dengan diagnosa penurunan kesadaran.

- Advertisement -

Saat dilakukan screaning awal di ruang UGD, hasil pemeriksaan anamneses (Bentuk pertanyaan ke orangtua pasien) didapatkan data pasien yakni demam negatif, batuk negatif, sesak positif, dan riwayat kontak dengan orang yang terjangkit Covid-19 tidak jelas.

Namun setelah ditelusuri, paman bayi tersebut baru pulang dari Kalimantan. Meskipun tidak pernah kontak langsung dengan bayi tersebut.

“Bayi tersebut masuk kategori PDP berdasarkan diagnosa yang diambil dari pedoman dan pencegahan dan pengendalian Covid-19 revisi keempat poin ke tiga. Bayi tersebut mengalami pneumonia berat tanpa didapatkan penyebab yang spesifik, misalnya infeksi paru-paru yang berat karena kuman. Namun demamnya tidak ada, tetapi ada kemungkinan demamnya sudah tidak muncul karena dehidrasi berat. Itu masuk kriteria PDP poin ketiga berdasarkan pedoman dan pencegahan dan pengendalian Covid-19 ,” ungkap Direktur RSUD Buteng dr Karyadi saat menggelar konfrensi pers di Sekretariat Gugus Tugas Pengangan Covid-19, Rabu 8 april 2020.

Kata Karyadi, pasien tersebut dinyatakan meninggal pada tanggal 07 April 2020 sekira pukul 06.00 Wita. Kemudian jenazah di perlakukan sesuai dengan protokol PDP di rumah sakit dan diantar ke rumah orang tuanya menggunkan mobil ambulance RSUD Buteng.

Menurut tenaga medis yang menangani pasien tersebut, terang Karyadi, bayi sebelum meninggal sudah ditangani berdasarkan prosedur penaganannya.

“Penanganan medis sudah ditangani. Kalau pemasangan infus sudah tidak berhasil dan pemasangan Nasogastrick Tube (Pemasangan nutrisi cairan melalui selang) sudah dilakukan. Itu yang memungkinkan ditangani dan itu sudah sesuai dalam bentuk penanganannya,” terangnya.

Terkait dengan penanganan mengunakan APD (Alat Pelindung Diri), lanjut Karyadi, penanganan pasien PDP memiliki protokol mengunakan pakaian APD sesuai standar yang dianjurkan oleh kementrian dan organisasi kesehatan. Namun, RSUD Kabupaten Buteng belum memiliki APD yang memadai. Sehingga yang menangani pasien menghindari kontak langsung dengan pasien PDP itu.

“Memang saat itu di RSUD tidak ada APD sama sekali. Saya coba mengontak kadis kesehatan untuk mengirimkan APD yang ada di Dinas Kesehatan namun setelah dicek ternyata APD yang ada hanya satu lapis. Itupun bagian tengahnya sangat tipis sekali. Setelah dilakukan pemeriksaan APD itu tidak memenuhi standar untuk melakukan pemeriksaan pasien PDP sehingga tidak digunakan. Dan pasien tetap dipantau namun dengan jarak tertentu, sambil berupaya mencari cari APD yang ada di RSUD. Meski di gabungkan APD di RSUD dengan APD dari Dinkes tetap tidak memenuhi syarat,” terangnya.

Menurut Karyadi, pasien tidak di rujuk ke RSUD lain seperti Kota Baubau dan Kabupaten Muna. Pasalnya penjelasan Protokol Penanganan Covid-19, pasien tidak memungkinkan di rujuk karena kondisi tidak stabil.

“Yang pertama itu kalau dilakukan rujukan harus dilihat kondisi pasien stabil untuk dirujuk atau tidak. Karena mengirim pasien yang tidak stabil itu membahayakan. Yang kedua pihak protokol juga sudah menyampaikan ke pihak keluarga terkait kondisi pasien. Namun pihak keluarga meminta tetap di rawat di RSUD Buteng karena ada oksigennya sehingga kemungkinan rujukan itu tidak dilakukan,” terangnya.

Karyadi menuturkan, pasien tersebut tidak sempat lagi dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan laboratorium. Pasalnya, tidak memadainya APD untuk mengambil sampel darah pada bayi tersebut.

“Karena minimnya APD sehingga petugas menjadi ragu untuk mengambil sampel darah. Apalagi pasien tersebut sudah didiagnosa masuk kategori PDP. Sehingga tidak dilakukan pemeriksaan khusus terhadap pasien itu,” ungkapnya.

Saat ini, lanjut Karyadi, pihak rumah sakit telah meminta kepada orang tua pasien agar melakukan isolasi mandiri dan akan dipantau petugas penanganan Covid-19.

“Yang dianjurkan ini melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Kita harapkan pada orang tuanya tidak terjadi apa-apa, ini faktor kewaspadaan saja,” ungkapnya.

Reporter: LM Arianto

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...