Siswa dan Alumni SMAN 9 Kendari Demo Tolak Kepsek Diduga Cabul

1763
 

Kendari, Inilahsultra.com – Sejumlah alumni dan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Negeri 9 Kendari menggelar unjuk rasa menolak kedatangan kepala sekolah (kepsek) baru, Aslan yang diduga punya latar belakang kasus pencabulan.

Demonstrasi yang berlangsung di halaman SMAN 9 Kendari itu turut dikawal aparat kepolisian. Kebetulan, sekolah tengah menggelar serah terima jabatan dari kepala sekolah lama, Abdul Rahman ke Aslan yang turut disaksikan oleh pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra.

- Advertisement -

Menurut Ketua Ikatan Alumni SMAN 9 Kendari Riqar Manaba, Aslan tidak pantas memimpin jabatan kepala sekolah karena memiliki rekam jejak yang buruk, dugaan pencabulan saat menjadi kepsek di Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) Kendari.

Ia mengaku khawatir, tabiat buruk itu kembali terulang di SMAN 9 Kendari.

“Sebagai alumni, saya menolak kehadiran Aslan untuk memimpin SMAN 9 Kendari. Karena, dia telah menunjukkan perbuatan tidak bermoral dan tidak pantas memimpin sekolah ini,” katanya, Selasa 13 Oktober 2020.

Menurut Riqar, bila Aslan tidak mengakui perbuatan cabul itu, harusnya tidak membayar denda adat yang diminta oleh keluarga korban.

“Namanya sudah peohala (adat Tolaki), berarti itu sudah mengakui perbuatannya. Ini jelas berbahaya bagi adik-adik kami di SMAN 9 Kendari dan tidak ada yang bisa menjamin hal itu tidak terulang lagi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua OSIS SMAN 9 Kendari Adelia Audila Tungka mengaku telah mendapatkan informasi di media sosial dan pemberitaan media massa bahwa kepala sekolah yang baru pernah terlibat dugaan pencabulan.

Untuk itu, ia khawatir jangan sampai dia dan teman-temannya bisa saja menjadi korban lainnya. Terlebih, kata dia, pengurus OSIS selalu menggelar kegiatan dan sering menginap di sekolah.

“Kami takut karena jangan sampai diapa-apakan,”  katanya dengan polos di hadapan Aslan dan guru lainnya.

Untuk itu, selaku perwakilan siswa, dirinya menolak kehadiran Aslan selaku Kepsek SMAN 9 Kendari yang baru.

Di tempat yang sama, Ketua Komite SMAN 9 Kendari Alwi Genda mengaku kaget adanya informasi dari siswa dan alumni terkait riwayat kasus yang membelit kepala sekolah tersebut.

Menurut dia, Dinas Pendidikan Provinsi Sultra harus bertanggung jawab atas kekeliruan ini. Ia juga mengusulkan agar dilakukan evaluasi kembali terhadap kepala sekolah yang baru.

“Saya tidak pernah menolak adanya kepala sekolah yang baru, tapi kalau begini adanya, kita harus timbang kembali,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra Syaiful mengaku, dalam penunjukkan Aslan selaku kepala sekolah tidak dilakukan verifikasi hingga di media sosial dan pemberitaan.

Menurutnya, penunjukkan kepala sekolah berdasarkan aturan dan keputusan dewan pertimbangan pengangkatan dan pemberhentian kepala sekolah.

“Sehingga, kita tidak mau terlibat dalam pergolakan dunia maya, harapan kami ada bukti otentik bahwa dia bersalah secara hukum,” katanya.

Ia menyebut, bila laporan ini dari awal masuk di Diknas Sultra, sudah pasti akan mempertimbangkan Aslan untuk tidak dilantik sebagai Kepala Sekolah SMAN 9 Kendari.

Di tempat yang sama, Aslan saat ditanyakan terkait penolakan siswa hingga Riwayat kasus yang membelitnya, ia menolak memberikan komentar.

“Nanti dulu saya tanggapi ya,” singkatnya sambil berlalu.

Pada 2017 lalu, Aslan ramai diberitakan media dugaan pencabulan terhadap siswi di SKO Kendari. Aslan diduga beberapa kali mengajak salah satu siswi keluar dari asrama dan melakukan cabul.

Namun, Aslan membantah seluruh tuduhan itu dan mengklaim hanya mengelap keringat siswinya. Atas perbuatannya itu, orang tua siswi keberatan dan menuntut Aslan mengganti rugi adat berupa uang.

Penulis : Onno

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...