Perusahaan Tambang Diduga Serobot Lahan Warga Wawonii, Ali Mazi : Omong Kosong Itu

404
Gubernur Sultra, Ali Mazi saat meninjau korban banjir bersama Menteri PU PR dan Komisi V DPR RI di Kabupaten Konawe

Kendari, Inilahsultra.com – Gubernur Sultra Ali Mazi tidak percaya kabar lahan warga diduga diserobot oleh perusahaan tambang di Kabupaten Konawe Kepulauan (KonKep).

Ali Mazi mengaku, di Pulau Kelapa itu tidak ada penggusuran.

- Advertisement -

“Nda lah, Omong kosong itu. Kita sudah turunkan tim kejaksaan semua kok,” kata Ali Mazi saat ditemui di Hotel Claro, Kamis 11 Juli 2019.

Menurut Ali Mazi, perusahaan tambang sudah melakukan ganti rugi terhadap lahan warga.

                       

Ia juga mengklaim bahwa masyarakat Wawonii menerima hadirnya tambang.

“Itu nda ada penggusuran. Mereka kan sudah ganti rugi. Kita sudah turunkan tim. Masyarakat setempat itu menerima,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sebanyak sembilan izin usaha pertambangan (IUP) di KonKep sudah cabut. Namun, ada beberapa IUP yang masih aktif.

“Kan IUP-IUP sudah ada dikeluarkan. Tidak sesuai kita cabut. Yang bisa berjalan kita jalankan,” jelasnya.

Ia menyebut, KonKep punya potensi dan tidak bisa dibiarkan tidak dikelola. Sebab, daerah butuh sumber pendapatan di sektor tambang.

“Nah daerah itu ada potensi. (Jangan) kita biarkan terus. Dari mana penghasilan daerah itu,” tuturnya.

Soal kabar lahan warga digusur perusahaan, ia mengajak untuk turun langsung ke lapangan.

“Kita tidak mau bohongi rakyat,” pungkasnya.

Sebelumnya, video seorang ibu di Desa Roko-roko Kecamatan Wawonii Tenggara Kabupaten Konawe Kepulauan (KonKep) mendadak viral lantaran menghalau escavator milik perusahaan tambang di pulau tersebut.

Dengan suara lantang, ia meminta escavator dan aparat keluar dari tanahnya.

Diketahui ibu yang tampil berani itu bernama Marwah.

“Namanya ibu Marwah. Dia menolak tanahnya digusur oleh perusahaan tambang,” kata Yardin, kerabat Marwah saat dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu 10 Juli 2019.

Baca Juga :  DPRD Mubar Mungkinkan Pinjaman Pemda Mubar Rp 200 Miliar Tak Diloloskan

Yardin menceritakan, awalnya perusahaan tambang PT Gema Kreasi Perdana (GKP) sudah menggusur sebagian lahan warga yang mendukung hadirnya tambang, Selasa 9 Juli 2019.

“Setelah itu, datang menggusur lahan ibu Marwah. Tapi ibu itu melawan. Karena kami menolak hadirnya tambang,” jelas Yardin.

Saat itu, kata dia, ada empat unit escavator yang dikerahkan perusahaan untuk menggusur lahan warga. Selain itu, perusahaan juga dikawal oleh aparat kepolisian dan TNI dengan bersenjata lengkap.

“Mereka kawal itu alat berat dengan menenteng senjata,” ujarnya.

Karena mendapat penolakan dari warga, aktivitas penggusuran akhirnya berhenti.

Kini, lanjut dia, warga tengah berkumpul dan berjaga di lokasi untuk menghalau alat berat perusahaan yabg hendak menggusur.

“Sekarang kita berjaga di sini. Saya sekarang diperjalanan membawa makanan untuk teman-teman di sana,” bebernya.

PT Gema Kreasi Perdana adalah salah satu perusahaan yang diberhentikan sementara oleh Pemprov Sultra.

Perusahaan ini, memiliki dua IUP di Pulau Kelapa ini.

Selain PT Gema Kreasi Perdana, Pemprov Sultra juga menghentikan sementara aktivitas PT Alatoma Karya, PT Bumi Konawe Mining, PT Kimco Citra Mandiri, dan PT Konawe Bakti Pratama.

Sedangkan sembilan IUP yang dicabut permanen, adalah PT Hasta Karya Megacipta, PT Pasir Berjaya Mining, PT Derawan Berjawa Mining (dua izin), PT Cipta Puri Sejahtera, PT Natanya Mitra Energi (dua izin), PT Investa Pratama Intikarya, dan PT Kharisma Kreasi Abadi.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
loading...