Obor Mengenang Setahun Meninggalnya Randi-Yusuf Dibakar di Depan Polda Sultra

691
 

Kendari, Inilahsultra.com – Mahasiswa belum bisa melupakan kematian Almarhum Randi-Yusuf Kardawi. Sabtu, 26 September 2020 malam, tepat setahun, dua mahasiswa Universitas Haluoleo (UHO) meninggal dunia saat aksi unjuk rasa penolakan UU KPK dan RKUHP di kantor DPRD Sultra, Kamis 26 September 2019 lalu.

Di depan kawat duri yang telah dipasang polisi, mahasiswa menggelar aksi solidaritas oleh kelompok Cipayung Plus Sulawesi Tenggara (Sultra), GMNI, HMI, IMM, KAMMI, LMND, dan GPMI, sebagai bentuk refleksi satu tahun meninggalnya Randi-Yusuf. Aksi tersebut, dirangkaikan dengan pembakaran obor.

- Advertisement -

Ketua DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sultra, Marsono mengatakan, aksi ini sebagai bentuk solidaritas Cipayung Plus terkait meninggalnya dua mahasiswa Randi-Yusuf pada 26 September 2020. Menurutnya, kejadian itu merupakan tragedi yang memilukan dan sangat kejam.

“Agenda kami malam ini untuk merefleksi satu tahun kasus Randi-Yusuf, sangat kejam yang dilakukan aparat kepolisian sehingga merenggut dua nyawa teman kami,” ucap Marsono, saat ditemui di perempatan Polda Sultra.

Sehingga, sambung Marsono, atas dasar itulah menggerakkan hati dan terus berjuang sampai kasus Randi-Yusuf terungkap dengan jelas dan diungkap seterang-terangnya.

“Kami juga meminta kepada Kapolri dan Kapolda Sultra yang saat ini menjabat, untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas meninggalnya Randi-Yusuf,” katanya.

Selain itu, meminta Kapolda Sultra, Yan Sultra Indrajaya untuk mundur dari jabatannya. Karena aksi 26 September tahun lalu, saat itu Yan Sultra adalah penanggung jawab kepolisian dalam pengawalan aksi dan saat ini menjadi Kapolda Sultra.

Senada dengan itu, Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Sultra, Laode Farhan menambahkan, aksi ini terbangun karena tidak adanya kejelasan penanganan kasus ini. Satu tahun sudah, kepolisian belum mampu menyelesaikan kasus meninggalnya almarhum Randi-Yusuf.

“Atas dasar itulah, kami turun ke jalan untuk menuntut Kapolda bertanggung menjawab penuh. Sangat jelas, Yan Sultra waktu itu menjabat sebagai Wakapolda dan menjadi pimpinan di lapangan untuk mengawal massa aksi,” bebernya.

Setelah menjabat Kapolda Sultra, sambung Laode Farhan, mendesak Yan Sultra Indrajaya agar komitmen dalam mengungkap kasus Randi-Yusuf.

Sekadar mengingatkan kembali, tragedi penolakan UU KPK dan RKUHP di kantor DPRD Sultra tahun lalu, dua mahasiswa UHO meninggal dunia.

Randi mengembuskan nafas terakhir, usai diterjang timah panas mengenai pada bagain bawah ketiak sebelah kiri hingga tembus dada kanan. Almarhum Randi meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit dr Ismoyo, Kendari.

Sementara, Almarhum Yusuf Kardawi mengalami luka serius pada bagian kepala. Diduga akibat benturan keras. Almarhum Yusuf sebelumnya di rawat di Rumah Sakit dr Ismoyo, karena mengalami pendarahan hebat, almarhum dirujuk di Rumah Sakit Bahteramas untuk menjalani operasi.

Di Rumah Sakit Bahteramas, Yusuf sempat menjalani operasi dan mengalami masa kritis di ruang ICU. Jelang subuh, Jumat 27 September 2019 sekira pukul 04.05 WITa, Yusuf Kardawi mengembuskan napas terakhir.

Penulis : Onno

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...